Dandim Jembrana Dan Kadistan Pantau Kekeringan Di Subak Manistutu


IMG_20190713_204552023

#Keterangan foto; Dandim 1617/Jembrana Letkol Kav. Djefri Marsono Hanok terjun langsung memantau lokasi areal persawahan Subak Manistutu Barat, Banjar Ketiman, Desa Manistutu.
 
 
 
DETEKSIPOST.COM – JEMBRANA – BALI – Program Pemerintah melalui Kementerian Pertanian bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat (TNI AD) dalam upaya khusus pengembangan pertanian khususnya persawahan.
 
Dimana program ini terus bergulir dalam mewujudkan program swsembada pangan masyarakat Indonesia khususnya juga bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Bumi Makepung sebagai bagian teritorial Kodim 1617/Jembrana.
 
Bersumber dari program inilah yang mendorong Dandim 1617/Jembrana Letkol Kav. Djefri Marsono Hanok terjun langsung memantau lokasi areal persawahan Subak Manistutu Barat, Banjar Ketiman, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Jembrana yang saat sekarang kondisinya tidak mendapat pasokan air akibat adanya musim kemarau yang cukup panjang.
 
Mencermati hal tersebut serta melihat peran kelompok tani dengan aparat Babinsa setempat, Dandim juga dapat memahami kesulitan yang dialami oleh para petani sehingga kedepannya dapat dicarikan solusi dan diberikan kemudahan guna mengoptimalkan kembali program pertanian dan pencapaian hasil yang selama ini berhasil dengan baik.
 
Dandim mengatakan, dalam pertemuannya di Kementerian Pertanian bahwa akan didukung sumur bor kepada para kelompok tani ataupun petani yang sawahnya tidak mendapat pasokan air dari sumber mata air termasuk Subak yang ada di Kabupaten Jembrana yaitu Subak Manistutu Barat sehingga tidak lagi kita melihat di lapangan dampak dari kekeringan yang sangat berefek pada gagal saat musim panen padi.
 
“Setiap Subak yang membutuhkan sumur bor akan didukung”, ungkap Dandm DJefri, Jumat (12/07) kemarin di lokasi Subak Manistutu.
 
Untuk di ketahui hampir 48 persen tanaman padi yang ada di Kabupaten Jembrana pada tahun 2019 ini terancam kekeringan akibat musim kemarau yang terjadi sampai saat ini.
 
Prediksi petani awalnya tidak seperti ini contohnya seperti di Subak Manistutu Barat ini, di awal memang cukup air tetapi tanpa diantisipasi ternyata selama 2 bulan terakhir ya kondisi seperti ini dari 6.200 Hektar dan 147 Hektar itu terancam kekeringan dan khusus untuk di Subak Manistutu Barat ini seperti tadi disampaikan bahwa ada 30 hektar yang terancam gagal panen, tetapi separuhnya sudah tidak bisa kita selamatkan.
 
Dandim juga akan mengadakan Satgas Patroli yang melibatkan Babinsa sebagai ujung tombak untuk memantau lahan persawahan yang dilanda kekeringan khususnya di wilayah Jembrana sehingga bencana kekeringan akan cepat ditangani.
 
Dalam kunjungan tersebut turut hadir pula Kadis Pertanian dan Pangan Pemerintah Kabupaten Jembrana I Wayan Sutama, yang berharap ke depan bantuan-bantuan yang akan diberikan ini dapat berjalan efektif dan efisien.
 
“Kadang-kadang pemahaman petani kita kaitannya dengan bantuan seperti sumur bor ini dianggap sebagai sumber pengairan utama, padahal harapan kita sebetulnya hanya sebagai bantuan pendukung saja di saat-saat dibutuhkan”, ungkap I Wayan Sutama.
 
Dalam kesempatan ini juga Dandim menyampaikan Indonesia sebagai negara agraris wajar saja apabila mempunyai cita-cita menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2050.
 
Menurut Dandim, untuk mendapatkan pencapaian tersebut kita harus mempunyai modal besar, tekad dan sarana penunjang serta para petani yang profesional.
 
Salah satu persyaratan untuk mencapai lumbung pangan dunia adalah dengan meningkatkan LTT (luas tambah tanam) secara nasional sehingga bisa mencapai target 1juta ton per tahunnya.(TIM)