Menjadi Polisi Bagi Diri Sendiri, Wujud Cinta Tanah Air Dan Bela Negara


BALI – DETEKSIPOST.COM – Polda Bali, Polres Badung Keanekaragaman Bangsa Indonesia yang memiliki 1.340 suka bangsa, 718 bahasa dan17.508 kepulauan, serta jumlah penduduk sebanyak 275,77 juta jiwa dan derasnya arus globalisasi serta pesatnya tehnologi di kalangan anak-anak, tidak menutup kemungkinan menyisakan sampah yang dapat memecah belah bangsa indonesia. Hal ini melatar belakangi pimpinan Polres Badung bekerjasama dengan pemerintahan Kabupaten Badung untuk melaksanakan pembinaan wawasan kebangsaan ke sekolah-sekolah mulai dari sekolah tingkat pertama hingga menengah atas.
 
Kapolres Badung AKBP Leo Dedy Defretes, SIK, SH, MH mengatakan, wawasan dan bela negara sangat penting diberikan kepada para siswa sejak dini sebagai pondasi penguatan terhadap 4 pilar kebangsaan dalam menjaga kerukunan, persatuan dan kesatuan dari keanekaragaman Bangsa Indonesia.
 
“Mereka sebagai generasi muda penerus harus yang akan menjadi pengganti kita – kita ini. Oleh karenanya membumikan Pancasila sejak dini menjadi hal yang sangat penting dalam mengisi kemerdekaan yang telah di perjuangkan oleh nenek moyang kita,” Ungkapnya di Aula SMK Wira Harapan Dalung, Jalan Raya, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Kamis, (15/12) pagi 07.30
 
“Kita harus memiliki pemahaman yang benar terkait wawasan kebangsaan, seperti nenek moyang kita berkorban nyawa menyatukan indonesia mulai suku, bangsa, bahasa dan tanah air yaitu tanah air indonesia,” Ujarnya.
 
Menurut Pria yang lahir dan besar di Jakarta menyebutkan Empat Pilar Kebangsaan yang dimaksud yaitu NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD 45 dan Trisakti Bung Karno yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam Kebudayaan. Semua ini bukan untuk dihapal, tetapi harus di pahami dan dilakdanakan dengan kesdaran
 
“NKRI harga mati, NKRI harga mati,” Sebutnya dengan lantang yang diikuti oleh ratusan para siswa dan guru-guru SMK Wira Harapan.
 
Dirinya juga mengajak seluruh siswa untuk selalu ingat terhadap jasa-jasa para pahlawan, generasi pendahulu mulai dari perintis gerakan Boedi oetomo, 1908, Sumpah Pemuda 1928 hingga pejuang kemerdekaan indonesia.
 
“Jangn lupa mengingat jasa para pahlawan dan mudah terprovokasi yang dapat memecah belah bangsa dan selaku generasi penerus harus kita bela bersama dengan menjadi polisi bagi diri sendiri,” Pungkasnya.(tim).