Gubenur Bali Mengatakan Penguatan Eksistensi Desa Pakraman Menghadapi Tantangan Global


DETEKSIPOST.COM – Pembukaan giat Pesamuhan Agung VI Majelis Desa Pakraman (MDP) Bali dengan tema “Penguatan Eksistensi Desa Pakraman Menghadapi Tantangan Global” yang di selenggarakan oleh MUDP Bali, selaku Ketua Panitia Pesamuhan Agung MDP Bali, Dr.Luh Riniti Rahayu, diikuti sekitar -+ 350 orang.bertempat di Gedung Kesirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar Timur.jumat.(17/11).
 
Laporan ketua Panitia (Dr.Luh Riniti Rahayu) yang intinya, Penguatan eksistensi desa pakraman dijadikan tema dalam Pesamuhan Agung VI MDP Bali tahun 2017, tidak berarti eksistensi desa pekraman telah goyah sehingga perlu usaha penguatan. Adanya unsur niskala atau keyakinan agama Hindu (parhyangan) yang menjadi salah satu unsur desa pakraman di samping unsur keanggotaan (pawongan) dan wilayah (palemahan).
 
“Kemudian menyebabkan eksistensi desa pakraman sebagai organisasi menjadi relatif kuat dibandingkan dengan organisasi serupa yang tidak memiliki dan atau terikat oleh unsur Walaupun demikian.”ucap ketua Panitia Dr. Luh Riniti Rahayu.
 
Lebih lanjut adanya perubahan dalam berbagai bidang kehidupan pawongan, baik dalam desa pakraman maupun di luar lingkungan desa pakraman, telah menyebabkan munculnya perubahan orientasi dalam menyelesaikan pekerjaan termasuk dalam pelaksanaan upacara agama.
 
Lamjut MDP Bali mengadakan Pasamuhan Agung VI pada dasarnya bertujuan untuk Mengevaluasi Pelaksanaan Program Tahunan MDP Bali,Membahas Penguatan Eksistensi Desa Pakraman Menghadapi Tantangan Global dan Merumuskan dan Menetapkan Program Kerja MDP Bali ke depan.
 
Menurut Bendesa Agung MUDP Bali (Jero Gede Putus Suwena Upadesa) yang intinya MUDP diharapkan bisa menjawab tantangan Bali kedepan, Bali ini sudah diserang dari dalam maupun dari luar. Arus globalisasi saat ini sangat cepat pengaruhnya, diharapkan agar desa Pakraman tidak jalan ditempat, untuk itu dilaksanakan Pesamuhan Agung ini. Masalah saber pungli, jangan sampai ada orang saber pungli yg datang seolah olah Desa Pakraman tidak ada apa apanya. Dalam pasamuhan ini juga dibahas bagaimana desa Pakraman dalam menghadapi kekerasan terhadap anak dan bahaya narkoba.
 
Sambutan dan pengarahan Gubernur Bali (Bpk. Made Mangku Pastika) sekaligus membuka secara resmi Pesamuhan Agung VI yang ditandai dengan pemukulan gong yang intinya, Marilah kita tidak henti-hentinya menghaturkan Puja pangastuti dan angayubagia, kehadapan Ida Hyang widi Wasa, atas asung kertha wara nugraha kita bersama-sama dapat hadir pada kesempatan ini dalam keadaan sehat dan berbahagia,serta dalam suasana damai dan penuh kebersamaan.
 
“Saya menyambut baik pelaksanaan Pasamuhan Agung ini, yang merupakan wahana strategis untuk mengevaluasi kinerja majelis desa pakraman, sekaligus mengevaluasi peran dan eksistensi desa pakraman di tengah perkembangan global. Saya berharap, isu-isu dan permasalahan sensitif dan kompleks, yang selama ini belum tuntas terselesaikan dalam lingkup desa pakraman, turut dibahas dan dihasilkan solusi dalam pasamuhan ini.”ucap Mangku Pastika.
 
Menurut Gubenur Bali. Made Mangku Pastika, melihat, Majelis Desa Pakraman, mulai dari Majelis Alit sampai Majelis Agung, telah berperan penting dan berkontribusi besar dalam pembangunan krama dan daerah Bali. Sebagai partner pemerintah daerah, “Majelis Desa Pakraman tidak hanya berkewajiban memberikan masukan dan pertimbangan, tetapi juga mengawal kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan, terutama terkait dengan eksistensi desa pakraman, serta pelestarian adat dan budaya secara menyeluruh. “Unjarnya.
 
Terutama Majelis Utama, yang harus mampu menempatkan diri pada posisi yang tepat, diantaranya mampu menetralisir dan menyelesaikan berbagai masalah dan polemik sosial-pembangunan yang muncul belakangan ini, yang menyangkut bidang adat.
 
Sebagai daerah tujuan wisata internasional, Bali adalah daerah yang terbuka. Dinamika arus globalisasi yang sangat cepat dan kompleks, membawa berbagai dampak sosial, ekonomi, bahkan ideologi. Bali sedang mengalami proses transformasi sosial budaya, baik karena faktor internal dari dinamika kehidupan masyarakat Bali yang sudah bergerak cepat, yang sudah bercirikan 3S (speed, surprise, and suddenshif), maupun
karena faktor eksternal, dinamika global dengan nilai-nilai modern, yang bercirikan VUCA (volantility, uncertainty, complexity, and ambiguity). Fenomena ini, tentu juga berpengaruh pada eksistensi desa pakraman.
 
Sedangkan Tema pasamuhan, yaitu “Penguatan Eksistensi Desa Pakraman Menghadapi Tantangan Global”, sangat relevan dengan kondisi saat ini. Komitmen untuk meningkatkan eksistensi desa pakraman, harus dimulai oleh parajuru majelis dan parajuru desa pakraman, bersama Pemerintah.
Salah satunya adalah peningkatan kapasitas parajuru, melalui berbagai program/kegiatan.
 
Selain itu Filosofi “desa, kala, patra,” menjadikan desa pakraman tumbuh dan berkembang harmoni dalam perbedaan. Perbedaan ini harus dijaga, bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk memperkuat Bali, dan bahkan NKRI.
 
Kita adalah satu. Kepekaan terhadap desa pakraman tetangga, atau terhadap komunitas lainnya, juga harus terus ditumbuhkan sesuai filosofi hidup menyama braya Jangan sampai ada kesan, “desa pakraman karena otonominya, terkesan arogan dalam pengaturan wilayah dan krama-nya”. Bali saat ini sudah heterogen dan kompleks. Desa Pakraman harus tetap eksis dalam perbedaan dan keberagaman. Itulah yang membuat Bali ini “unik dan agung”.
 
Dalam proses transformasi sosial budaya, disamping ada pengaruh-pengaruh positif, tidak dapat dipungkiri pula adanya pengaruh-pengaruh negatif. Kondisi tersebut telah menyebabkan masyarakat Bali, mulai bergeser dari masyarakat
tradisional yang mengutamakan nilai-nilai sosial-komunal, mengembangkan kearifan lokal, dan sebagai masyarakat yang religius, berubah ke ciri-ciri masyarakat kota yang modern, eksploitatif dan sekuler. Perubahan ini pula, menimbulkan keprihatinan dan kekhawatiran kita semua, sehingga harus diantisipasi dengan tepat.Untuk itu, penghormatan terhadap nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal, menjadi salah satu pijakan kita.
 
“Keberadaan Desa Pakraman dan lembaga tradisional lainnya, merupakan “benteng” adat dan budaya Bali dalam menghadapi derasnya ekspansi nilai-nilai global.”terangnya.
 
Dalam konteks pembangunan daerah Bali, berbagai potensi hambatan pembangunan yang bersumber pada aspek internal masyarakat adat, harus dapat diantisipasi oleh Majelis Desa Pakraman. Kita semua sangat sedih, ketika berbagai permasalahan antar kelompok masyarakat yang muncul dibawa ke ranah adat, akhirnya menjadi permasalahan antar banjar, dan antar desa pakraman.
 
Saya berharap kepada MUDP-Bali untuk melakukan inventarisasi potensi permasalahan di tingkat desa pakraman, sekaligus mengantisipasinya dengan langkah-langkah tepat.Terhadap permasalahan yang sudah muncul, agar ditangani melalui mediasi yang menguntungkan semua pihak.
 
Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen untuk menjaga kelestarian adat dan budaya Bali yang bernafaskan agama Hindu, sekaligus sebagai pilar utama pembangunan pariwisata Bali, serta
penyangga pembangunan daerah secara menyeluruh. Berbagai program telah diarahkan, demi pemberdayaan krama dan lembaga desa pakraman, serta lembaga tradisional lainnya.
 
Salah satunya adalah kontinuitas pemberian bantuan keuangan yang dialokasikan dalam APBD Provinsi
Bali, yang terus mengalami peningkatan. Dengan dukungan DPRD Provinsi Bali, dalam tahun anggaran 2018 mendatang, besaran bantuan untuk masing-masing Desa Pakraman adalah 225 juta rupiah. Naik dari tahun ini, yang masih 200 juta rupiah.Kenaikan bantuan ini.
 
Saya harapkan benar- benar dimanfaatkan sesuai keperluan dan kondisi masing-masing, untuk kelestarian budaya Bali, peningkatan kapasitas parajuru, dan program lainnya sesuai Tri Hita Karana.
 
Pembukaan giat Pesamuhan Agung VI Majelis Desa Pakraman (MDP) Bali dengan tema “Penguatan Eksistensi Desa Pakraman Menghadapi Tantangan Global” selesai dengan aman dan lancar.(Team Media DeteksiPost.Com).






Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *