
DETEKSIPOST.COM – Ketua Yayasan IKIP PGRI Bali, I Gusti Arthanegara mengatakan, proses suksesi pimpinan tertinggi IKIP PGRI Bali dimulai sejak Maret lalu. Fit and proper test dilakukan menjelang pemungutan suara, Kamis, 26 April 2018.
“Syarat menjadi calon cukup berat,
minimal harus mengabdi 15 tahun di kampus IKIP PGRI Bali dengan pendidikan S3,” jelas Arthanegara, Kamis, 26 April 2018.
Tantangan kedepan yang harus dijawab oleh rektor baru nantinya, dikatakan Arthanegara, sangat kompleks dan berat. Pertama, pimpinan IKIP PGRI Bali harus mewujudkan perubahan lembaga dari Institut menjadi Universitas.
Perubahan paradigma harus sudah terarah pada Revolusi Industri (RI) 4.0 dan Revolusi Teknologi (RT) 4.0. Hal yang perlu dicermati, kata Arthanegara, adalah mulai masuknya perguruan tinggi asing ke Indonesia.
Sementara, rektor terpilih periode 2018-2022, I Made Suarta mentarget, transformasi lembaga dari Institut menjadi universitas akan diwujudkan tahun ini. Ia mengakui proses itu cukup berat. Tapi, disitulah pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan di periode ketiga memimpin kampus pencetak tenaga guru itu.
“Tahun ini target jadi universitas. Ijin yang sudah ada saat ini soal merger,” jelas Suarta.
Selain itu untuk menjadi universitas, IKIP PGRI Bali diwajibkan mengakuisisi beberapa lembaga pendidikan yang tidak berkembang. Disitu, dua lembaga pendidikan tinggi telah menyatakan persetujuannya melebur di Kampus IKIP PGRI Bali.(TIM).





