
#;Pelukis Seniman I Made Supena
lahir di Singapadu, Gianyar pada 12 Januari 1970.foto;Istimewa.
DETEKSIPOST.COM – SANUR – BALI, Acara Pameran yang digelar dari 16 November – 31 Desember 2018, ada 32 karya lukis abstrak yang memiliki seni tentang alam. Sedangkan dalam pameran ini mengusung tema “Interpreting Feelings”, Kamis.15 November 2018.
Pelukis Seniman I Made Supena menyampaikan, Astraksi merupakan karya seni rupa bukan semata, karena kandungan makna keindahannya ataupun ragam stilistik-estetiknya,
Lanjut, melainkan juga bagaimana proses karya itu tercipta.Setiap perupa pada galibnya memiliki cara dan proses kreatifitas tersendiri dalam berkarya.”ujarnya.
Sekali lagi dikatakan I Made Supena, bahwa masing-masing karya pada dasarnya lahir melalui jalan kreasi yang berbeda, “jelasnya.
Hal ini menyiratkan dalam dunia penciptaan tersedia sebuah ruang untuk merayakan kebebasan berkreativitas yang mengandung aneka kemungkinan tak terduga.
Sehingga menarik bagi kita mencermati serta menelisik lebih jauh, apakah yang terjadi sewaktu sapuan warna, goresab garis, luluh menyatu mewujudkan sosok-sosok tertentu dalam kanvas, “jelas I Made Supena.
Pelukis seniman I Made Supena lahir di Singapadu, Gianyar pada 12 Januari 1970. Ia menghabiskan pendidikan formalnya pada program Seni Rupa dan Desain Universitas Udayana di tahun 1991-1997. Kini lembaga itu bertransformasi menjadi ISI Denpasar.
Sebanyak 32 lukisan abstrak karya Made Supena dipamerkan di Gallery Santrian Sanur mulai 16-30 November 2018. Karya-karya Supena menyiratkan pesan dalam sebuah karya abstraksi yang tetap mampu menghadirkan estetika lukisan yang dapat dinikmati.”ucap I Made Supena.
Pelukis I Made Supena mengatakan, betapa sebuah proses dalam melukis abstrak tidak begitu penting memikirkan kapan akan selesai.
“Dalam proses semuanya terus berkembang, jadi waktu sangat relatif kapan saya harus menyelesaikan lukisan,” jelas Made Supena di Griya Santrian Sanur, Kamis, 15 November 2018.
Selain itu karya-karya disebut oleh Warih Wisatsana sebagai Langgam Abstraksi yang memikat. Bukan semata karena kandungan makna keindahannya ataupun ragam stilistik estetikanya, melainkan bagaimana proses karya itu tercipta.”ujar I Made Supena.
Sementara, Abstraksi karya Made Supena seperti yang dipamerkan, menguat pada warna-warna tunggal atau monochrome. Namun di balik kasat mata yang terlihat, warna chrome itu ternyata terudar dan memiliki kekayaan warna tersendiri.
Dikatakan, Pelukis I Made Supena, dirinya dalam membuat karya lukisan banyak mengeksplorasi warna-warna. Warna chrome yang ditampilkan terasa kuat mewakili kondisi alam saat ini.”jelasnya.
“Warna senada (chrome) mewakili situasi kondisi yang terjadi sekarang. Meski secara spesifik saya tidak melempar pesan kepada orang yang menikmati karya saya,” jelasnya demikian.
Hal ini layaknya seorang pelukis, dalam menghasilkan karya, Supena juga melewati proses kontemplasi yang sangat privasi.”ucap. I Made Supena.
Sehingga, perenungan itu disapukan dalam sebuah kanvas menjadi goresan garis maupun sapuan warna. Keduanya lantas menyatu mewujudkan sosok-sosok tertentu. Terkadang ditambahkan dengan abjad-abjad secara acak.
Sementara, Dollar Astawa menambahkan selaku mendampingi saat acara jumpa media mengatakan, bagi seorang pelukis itu memiliki tujuan untuk menyampaikan perasaan lewat karya. “jelasnya.
Hal ini, Jika karya itu kemudian menghasilkan uang, maka itu menjadi penghasilan. “namun menjadi seniman adalah Pilihan hidup,” ucap Dollar.(TIM).





