Puncak Acara GP XVI Doa Perdamaian Bergema di Bajra Sandhi Denpasar


DETEKSIPOST.COM – Steering Committee (SC) Gema Perdamaian (GP) Ida Rsi Acarya Waisnawa Agni Budha Wisesanatha Mengatakan, Sebuah gerakan untuk menyadarkan manusia, betapa pentingnya rukun dan harmonis sesama manusia.dengan Tuhan, manusia sama alam semesta. Rabu. 3 Oktober 2018
 
“Kata Inisiator atau Steering Committee (SC) Gema Perdamaian (GP), “Kita awali dengan perubahan diri sehingga bencana besar yang merugikan peradaban manusia tidak terulang kembali,” saat jumpa press conference Gema Perdamaian di kertalangun denpasar, dan nantik akan menggelar doa bersama di Bajra Sandi Denpasar pada tanggal 6 Oktober.
 
Sementara, selama ini beragam sikap buruk yang dilakukan manusia sudah menimbulkan malapetaka bagi peradaban manusia. Selanjutnya, Erupsi Gunung Agung Tahun 2017, sehingga gempa bumi di Pulau Jawa bagaian Barat, Nusa Tenggara (Lombok Utara) maupun Pulau Sulawesi (Palu) tertimpa gempa bumi dan tsunami.”ujarnya.
 
Hali ini, bertanda itu sudah sepatutnya mampu mengingatkan manusia untuk evaluasi diri. Dengan menyadari arti penting perdamaian, bukan hanya bergelut pada kehidupan ekonomi dan politik.
 
“Kita harus stop jadi manusia yang kurang baik, pergunakan hati nurani untuk melakukan yang lebih baik,” ujarnya.
 
Sehingga, “Kita harus melibatkan para orang suci dalam mencari solusi yang perlu ditempuh. Oleh karena nampak ada gejolak alam (Bhuana Agung) dan gejolak manusia (Bhuana Alit) dalam menghadapi Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.”ungkapnya.
 
Selain itu, “Sering dilakukan oleh para pendahulu, bahkan mereka begitu sigap dalam mencari solusi apabila terjadi situasi dan kondisi yang kurang normal.
 
IMG_20181003_182223568
 
Selanjutnya, SC Sudiarta Indrajaya menggungkapkan, terjadinya tragedi kemanusiaan yang tidak terduga ketika BOM Bali I dan II, sehingga peristiwa tersebut tidak pernah terbayang terjadi yang sangat mengejutkan di Bali. “ugkapnya.
 
“Kata Sudiarta Indrajaya, “tragedi kemanusiaan yang memilukan ini memerlukan aktivitas yang dapat menciptakan suasana, menyejukan hati dan damai, sementara, saat kondisi itu, pihaknya berupaya tetap kuat tegar memegang teguh ajaran benar sebagai nilai hakiki orang Bali yang ramah dan cinta damai.
 
Kegiatan GP diharapkan sebagai sarana perenungan yang paling mendalam. Sehingga, Bali yang sudah dikenal dunia akan keindahan alam, keunikan budaya dan kerahaman orangnya sehingga menjadi daya tarik para wisatawan dunia.
 
“Sementara, keunikan dan kelebihan ini patut kita jaga, bahkan orang lain, orang luar negeri, banyak memberikan apresiasi atas upaya kegiatan GP agar terus dilaksanakan,” ujarnya.
 
Kemudian juga diungkapkan Oleh Ketut Darmika, Gusde Sutawa dan Jero Penjor.
Sementara, mereka mengharapkan Bali menjadi contoh dunia dalam menjaga perdamaian. Oleh karena damai itu bentuk yang paling berharga (mahal).
 
Selain itu implementasi dalam masyarakat tidak adanya ulah premanisme, kejahatan, pencurian maupun bencana alam.Maka dari itu,, kekuatan doa pada hari puncak dapat memberikan vibrasi positif kepada kemajuan peradaban manusia.
 
Serta memperkuatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan beragam suku, ras, agama dan sumber daya alam (SDA).
 
Ketua Panitia GP XVI Kadek Adnyana didampingi Sekretaris Wahyu Diatmika menambahkan, sangatlah terasa bahwa peradaban saat ini berjalan didominasi oleh ego yang dibenarkan oleh arogansi rasionalitas dalam segala wujud ciptanya.
 
“Kata Adnyana, kita hening dan berusaha mendamaikan diri, hati nurani dengan halus dan penuh kasih membisikkan bahwa bukan ini yang sebenarnya yang ingin kita ciptakan dan kita cari. Peradaban tanpa damai akan percuma. Damai adalah dasar yang paling hakiki” ujar Adnyana.
 
Menurutnya, pengusaha perdamaian, hidup lebih bermanfaat dan terasa lebih indah. Damai dengan alam, damai dengan sesama, dan damai dengan sang Pencipta.
 
Seperti diketahui, pada Tahun 2018 ini perhelatan GP dilaksanakan yang ke-16 kalinya, puncak acara GP dihelat di lapangan Monumen Bajra Sandhi mulai pukul 16.00 sampai dengan 21.00 Wita.
 
Sedangkan acara yang akan dihadiri puluhan ribu orang dan sejumlah pejabat pemerintah pusat, provinsi, kota dan kabupaten di Bali. Juga kehadiran para sesepuh tokoh masyarakat, suci, pendeta, biksu, ulama, dan lainnya.(TIM).