Hut Ke-5th Gourmet Sate House di Kuta Bali


#Keterangan foto; Owner Gourmet Sate House.Klaus Ulrich bersama Santi Ulrich
 
 
 
DETEKSIPOST.COM – KUTA – BALI – Gourmet Sate House sebuah tempat makan menghidangkan masakan Indonesia, sate merupakan menu favorit yang bahanya dari daging ayam, sapi dan domba. Juga nasi goreng masakan Indonesia lainya.
 
Dijelaskan Santi Ulrich, Sate House, kedai yang berlokasi di jalan Dewi Sri, Kuta ini memiliki penggemar tersendiri dikalangan wisatawan domestik, internasional maupun para ekspatriat.
 
Seperti namanya, Sate House spesifik menyediakan menu sate berbahan daging kambing, domba, sapi dan ayam. Berdiri sejak 5 tahun lalu dan pada Rabu, 3 Juli 2019 ini merayakan hari jadi ke-5.
 
“Karena disini, di jalan hanya ditemui sate ayam atau sate kambing tapi sate yang banyak macam tidak ada,” jelas Klaus Ulrich di kedai Sate miliknya saat merayakan HUT Ke-5th warung kecil yang dikelola bersama istri, Santi Ulrich.
 
Itulah alasan yang melatarbelakangi ia membuka usaha Sate House ala gourmet. Klaus menceritakan, ia punya latarbelakang pastry chef di sebuah hotel berbintang di Bali. Sejak dulu, Klaus juga menyukai masakan Indonesia terutama sate.
 
“kemudian, ia hijrah ke Australia dan membuka restoran Indonesia di negeri Kangguru.”Tapi enam tahun lalu saya kembali lagi ke Bali dan menyewa tempat kecil disini,” ungkap Klaus.
 
IMG20190703181642 #Keterangan foto; Owner Gourmet Sate House. Klaus Ulrich bersama Karyawannya.
 
 
Dengan dibantu sang istri, Klaus Ulrich mengolah masakan sate dan gule berbahan daging yang umum diolah di Indonesia. Dalam proses pengolahannya, Klaus mengaku ada perbedaan dari semua bahan daging yang dimasak.
 
Di warung itu, juga tersedia sate domba yang jarang ditemukan di Indonesia. Ia mendatangkan dagingnya dari Australia.
 
Klaus menjelaskan, mengolah daging kambing dan domba sangat berbeda.
“Domba dagingnya lebih lembut, berbeda dengan kambing yang ada disini,” ujarnya.
 
Membuka warung dengan menu spesifik, tentu juga memiliki spesifikasi dalam pengolahan atau bumbu.
 
Santi Ulrich mengatakan, Sate House memilih bumbu tradisional dan tidak menggunakan penguat rasa atau monosodium glutamate (MSG).
 
“Semua masakannya fresh, pagi kita buat dan malam saat warung tutup harus sudah habis. Atau jika tidak, kami hanya bisa simpan sehari,” jelas Santi.
 
“Kedai sate Kami dalam sehari, kunjungan warung tersebut bisa mencapai 150 orang. Sate House mempekerjakan 14 orang karyawan yang siap melayani pesanan.”ungka .Santi Ulrich.(TIM)