
#Keterangan foto; Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Gianyar Anak Agung Bagus Ari Brahmanta dan David Hanan, pengamat perfilman Indonesia dalam diskusi Komunitas Seni Perfilman dan Ibunda Yoke Darmawan, sebagai Moderator.
DETEKSIPOST.COM – UBUD – BALI – Asal Usul Nama Ubud berasal dari kata ubad (bahasa Bali) yang artinya obat. Karena disekitar daerah Campuhan Ubud, banyak ditemukan tanaman obat untuk pengobatan secara traditional.”ungkap Anak Agung Bagus Ari Brahmanta.
Selain itu Puri Ubud Merupakan tempat wisata di Bali yang banyak diminati wisatawan asing dan domestik. Puri Ubud menjadi salah satu rute tour di Bali, oleh sebagian besar penyedia paket wisata ke Bali.
“Saat anda berlibur di Bali, baik dengan keluarga dan anak maupun saudarah. Banyak hal yang dapat anda lakukan di Ubud Gianyar.”jelasnya.
Seperti Ayung rafting Ubud, menonton kesenian tari Bali, wisata ke museum, melihat pemandangan sawah terasering dan masih banyak lagi yang lainnya. Juga lengkap tentang obyek pariwisata di Ubud
Sementara kegiatan diskusi komunitas perfilman yang diadakan di Ubud yang membawahkan acara Ibunda Yoke Darmawan, sebagai moderator.
Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Gianyar Anak Agung Bagus Ari Brahmanta dan David Hanan, pengamat perfilman Indonesia dalam diskusi Komunitas Seni Perfilman di Shrida Taste of Ubud Restaurant, Sabtu, 22 Juni 2019.
“Selain itu sampai saat ini, tidak banyak film fitur moderen tentang Bali. Padahal, banyak cerita atau latarbelakang tentang Bali yang dapat diangkat menjadi cerita utama untuk sebuah film non dokumenter. Sineas Bali, digadang-gadang jadi pelopor dalam mengangkat kekayaan pulau Dewata melalui film.”ujarnya.
Dijelaskannya David Hanan, pengamat perfilman Indonesia dan perintis program Studi Film di Monash University Australia mencatat, film dokumenter tentang Bali telah banyak dibuat. Namun menurutnya, tak banyak ditemui film komersial yang dibuat oleh sineas asal Bali.
“Menurut David dalam diskusi Komunitas Seni Perfilman di Shrida Taste of Ubud Restaurant, hanya sedikit orang Bali yang bekerja di industri film Indonesia sebagai penulis atau sutradara. Ada pengecualian penting untuk hal ini yakni, Putu Wijaya,” jelasnya.
Sekali lagi menurut catatan David, film dokumenter terakhir tentang Bali dibuat oleh John Darling, sineas asal Australia yang bertahun-tahun tinggal di Ubud.
Sedangkan film-film Indonesia yang dibuat tentang Bali, kata David, justru dibuat oleh sineas nasional diantaranya, Djajaprana (Kotot Sukardi, 1955), Noesa Penida (Galeb Husein, 1988), Dongeng Dari Dirah (Sardono W. Kusumo, 1992) dan Sekala Niskala (Kamila Andini, 2017).
#Keterangan foto; Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Gianyar Anak Agung Bagus Ari Brahmanta.
“Ada berbagai episode penting dalam sejarah Bali, dimana, Bali dan masyarakat serta budayanya telah menjadi subjek film atau mempengaruhi perkembangan film Indonesia,”ungkap. David.
Sementara, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Gianyar Anak Agung Bagus Ari Brahmanta mengatakan, ada banyak cerita rakyat atau legenda di Bali yang punya kisah menarik, yang sebenarnya bisa diangkat menjadi cerita utama film
“Kalau bicara sineas dari Bali, memang sedikit. Namun, banyak seniman Bali diluar perfilman. Hanya saja, kalau bicara soal cerita atau latarbelakang sebuah tempat untuk jadi kisah dalam film, Bali punya banyak cerita,” jelas Ari Brahmanta.
Pria asal Ubud Gianyar ini menambahkan, romantisme Jayapangus dan Putri Kang Cing We asal Cina, jadi salah satu kisah menarik yang melatarbelakangi daerah di Kintamani.
Romantisme yang sama juga terdapat di Bali Barat dengan cerita rakyat Jayapangus dan Layonsari. Bali juga punya kisah heroik pada masa pergerakan fisik dari sosok Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai.
“Belum lagi, cerita sejarah tentang kerajaan-kerajaan yang sampai saat ini masih kita temui silsilahnya. Karena itulah, kami mendorong anak-anak muda menggali cerita-cerita itu,” jelas Ari Brahmanta.
Sejarah dari Ubud dapat dilihat mulai pada abad ke 8, karena sebuah catatan sejarah yang dituliskan pada daun lontar, menceritakan orang suci penyebar agama Hindu yang berasal dari India. Beliau bernama Rsi Markandeya.
Sebelum ke pulau Bali, Rsi Markandeya terlebih dahulu mengunjungi pulau Jawa. Disaat Rsi Markandeya berada di Jawa, beliau mendapatkan pewisik, bahwa di kaki gunung Agung Besakih Bali, terdapat 5 jenis logam sakti. Saat ini dilokasi kaki gunung Agung Besakih, adalah lokasi dari pura terbesar di Bali, yang dinamakan Pura Besakih.
Saat Rsi Markandeya berada di pulau Bali, beliau merasakan energi yang besar di daerah Campuhan Ubud yang saat ini adalah lokasi dari Pura Gunung Lebah. Saat beliau berada di Bali, Rsi Markandeya juga membangun beberapa pura di daerah lain di Bali.
Sehingga Rsi Markandeya juga mengenalkan sistem irigasi untuk pertanian di Bali dan sistem teraserring. Sistem pertanian ini sampai sekarang masih di pakai untuk pertaniaan di pulau Bali.
“Oleh karena itu, saat anda wisata di Bali anda pasti akan melihat sawah terasering. Pusat dari persawahan dengan sistem teraserring berada di Jatiluwih Bali dan sawah Tegalalang Ubud.”jelasnya
Selain mengajarkan akan sistem irigasi sawah, Rsi Markandeya juga mengajarkan akan sistem Banjar, yaitu sistem organisasi kemasyarakatan daerah setempat, yang bertanggujawab perihal agama dan kegiatan adat istiadat masyarakat setempat. Sampai saat ini sistem Banjar masih di pakai di semua wilayah di pulau Bali.
Menurut Anak Agung Bagus Ari Brahmanta Semenjak abad ke 8 saat Rsi Markandeya menyatakan adanya energi suci dan besar di daerah Campuhan Ubud, sampai saat ini daerah Campuhan Ubud sangat di hormati oleh masyarakat Bali akan kekuatan spiritualnya.”ujarnya.(TIM).





